Cari Blog Ini

Minggu, 06 April 2014

Laporan Organisasi Manajemen industri


LAPORAN
ORGANISASI MANAJEMEN INDUSTRI

CV KEDAI DIGITAL

 

 

 

 

Di susun oleh :
AGUS  YUDIATMOKO       4125111064
DWI PURNOMO                  4125111065
EDY MUCHSIN S                4125111066
ACHMAD ABDUL HAQ     4125111067
BANGKIT WAHYU AJI      4125111068

TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Beberapa tahun ini konsep bisnis waralaba atau franchise telah menjadi salah satu trend yang memberi warna baru dalam dinamika perekonomian Indonesia. Pewaralabaan atau franchesing adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki oleh pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang atau jasa. Secara sederhana, waralaba adalah penjualan paket usaha yang komprehensif dan siap pakai yang mencakup merek dagang, material, dan pengelolaan manajemen. Sehingga kami memilih “KEDAI DIGITAL” sebagai perusahaan yang kami survey struktur organisasinya.

Tujuan
Penyusunan  malakah ini bertujuan untuk:
1.      Mengetahui profil “Kedai Digital”.
2.      Mengetahui Struktur organisasi “Kedia Digital”.
3.      Mengetahui teori organisasi yang digunakan “kedai Digital”.
Hipotesisi
1.      Bagaimana sejarah berdirinya  “Kedai Digital”?
2.      Teori apakah yang dipakai struktur organisasi “Kedai Digital”?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah “Kedai Digital”
TERINSPIRASI TAWURAN
Sejak masuk kampus UGM pada 1998, Saptu telah mendambakan memiliki usaha sendiri. Sembari kuliah, beberapa usaha dijalaninya. Mulai dari menjaga tas di koperasi mahasiswa, penjual ayam kampung, penjual stiker hingga sales dari agen kartu seluler dan rokok. Perubahan besar terjadi pada 2004, ketika Saptu bekerja sebagai event organizer disebuah perusahaan di Yogyakarta. Ia terheran-heran melihat salah insiden dalam konser Dewa di mana para penggemar ribut sampai memicu tawuran hanya karena berebut merchandise sang artis.

Dalam benak Saptu, merchandise berlogo atau bergambar sele­briti seperti t-shirt, pin, topi dan lain sebagainya itu, sebetulnya dapat dibuat dan diperbanyak sendiri. “Jadi, tak perlu tawuran segala. Dari situ saya pikir, merchandise juga sebenarnya bisa dipersonalisasi untuk setiap orang, dan bisa jadi hadiah,” ungkapnya.

Bermula dari rasa heran itu, pada 2005 mantan marketing Swaragama FM itu mengambil langkah berani. Ia mendirikan Kedai Digital – perusahaan yang memproduksi barang-barang cinderamata (seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Untuk modal awal, ia rela menjual motor dan meminta orangtua menggadaikan rumah keluarga, akhirnya terkumpul modal sebanyak Rp 28 juta.

Butuh waktu enam bulan baginya untuk memulai kegiatan Kedai Digital. Prioritas awal, ia mesti mencari mesin digital printing. Beruntung, mesin itu ditemukannya di Bandung. Ia juga mencari tahu sumber-sumber bahan baku. Kemudian, ia mempersiapkan tempat usaha, menyusun konsep produk, dan merekrut para staf. Semuanya dilakukan sendiri. Mulailah dia memproduksi beberapa merchandise. Pada mulanya masih terbatas pada kaos dan pin. Ketika mulai stabil, Saptu memberanikan diri merekrut desainer dari kampus-kampus seni, yang tersedia cukup banyak di Yogyakarta. Untuk tenaga marketing, ia meminta bantuan para mahasiswa dari perguruan tinggi lain, yang juga tersebar di kota itu. Pada awalnya, target pasar Kedai Digital adalah para mahasiswa.

Pada tahun pertama, Kedai Digital telah berhasil meraih penjualan sebesar Rp 400 juta. Tahun berikutnya, perolehan bisnis melesat menjadi Rp 900 juta. Seiring dengan pertambahan outlet, revenue pada 2007 menembus angka Rp 1,5 miliar. Bermula dari sebuah ­kios kecil di daerah Gejayan, Yogyakarta, kini Kedai Digital memiliki outlet di 21 kota di tanah air. Di antaranya di Jogyakarta, Solo, Semarang, , Magelang, Kudus, Klaten, Purwokerto, Sukoharjo, Wonol Madiun, Malang, Surabaya, Jember, Balikpapan, Sukabumi, Denpasar, Medan, Padang, Batam, Pekanbaru, dan Banda Aceh.

B.     Struktur Organisasi

Struktur organisasi tiap departemen
1.      Kedai digital
2.      Bagian Konveksi

3.      Bagian Suplier


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
           
¨  Departementalisasi adalah dasar yang dipakai untuk mengelompokkan pekerjaan secara bersama-sama dalam kedai digital. Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan.
¨  Spesialisasi pekerjaan. Sejauh mana tugas-tugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa pekerjaan tersendiri.
¨  Kedai Digital menggunakan teori organisasi moderen, karena dapat kita lihat dari struktur organisasinya penggunaan staf lebih intensif dan terdiri dari beberapa departemen yang memeiliki manajer departemen, sehingga dalam pengambilan keputusan departemen dapat diambil oleh manajer departemen.
¨   


1 komentar:

  1. Casino Tycoon - Mapyro
    Find your nearest Casino Tycoon location with Mapyro's selection 안양 출장마사지 of slot machines and table games, including Blackjack, Roulette and Craps. 제천 출장마사지 Realtime 인천광역 출장마사지 driving 오산 출장샵 directions 제주 출장마사지 to

    BalasHapus